Friday, September 15, 2006

Sumbangan untuk ITB

Pada saat acara reuni yang lalu, ITB 1984 sepakat akan menyumbangkan seperangkat sound system untuk Aula Barat ITB sejumlah 30 juta rupiah. Saat itu dana yang terkumpul baru mencapai 15 juta rupiah. Melalui acara fund raising yang cukup heboh, terkumpul sedikitnya 47 juta rupiah untuk dana tambahan sumbangan ke ITB. EL '84 sendiri, dengan 'menahan malu karena diledekin jurusan lain' menyanggupi menyumbang 3 juta rupiah. Menurut laporan Endi, sumbangan EL yang berasal dari beberapa rekan ini telah disampaikan kepada Forum ITB 1984. Terima kasih kepada rekan-rekan semua. Okey champs !

Thursday, September 07, 2006

ITB 1984, The Sustaining Community

Rangkaian hajatan besar ITB 1984 pada acara Reuni 22 Tahun Angkatan ’84 berlangsung dari hari Sabtu pagi, 19 Agustus 2006 sampai dengan hari Minggu siang, 20 Agustus 2006. Acara Sabtu pagi dimulai sekitar pul 8:30 dengan mulai berdatangannya para peserta. Setelah registrasi dan pembagian booklet serta kaos reuni, para peserta langsung ‘menyerbu’ stand-stand makanan kecil yang ada di sisi selatan Aula Barat ITB. Makanan kecil yang disajikan ternyata juga mampu mengganjal perut beberapa peserta reuni yang tidak sempat sarapan pagi. Sambil menikmati hidangan para peserta membentuk kelompok-kelompok kecil untuk ‘ngerumpi kangen-kangenan’ cerita masa lalu dan kabar-kabari masa kini. Kelompok-kelompok ini terbentuk oleh satu jurusan tertentu maupun oleh kelompok lintas jurusan. Menurut catatan panitia kalau nggak salah acara reuni ini secara resmi terdaftar sekitar 300 an alumni. Sedangkan pada saat cara Sabtu pagi kira-kira 75% lebih dari peserta yang terdaftar hadir pagi itu. Untuk jurusan EL sendiri, tercatat terdaftar 37 orang dan yang hadir pagi itu adalah 25 orang.

Pukul 9:30 panitia mulai memanggil-manggil peserta untuk duduk manis memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan dan mengikuti acara resmi yang sudah disiapkan. Acara resmi pagi itu adalah Bincang-Bincang ITB ’84. Yaitu sebuah talk show ajang refleksi diri dengan beberapa pembicara dari angkatan ’84 yang dianggap sudah ‘layak’ untuk ditampilkan. Sebelum acara bincang-bincang, terlebih dahulu dilakukan pembukaan oleh Ketua Panitia Penyelenggaraan Reuni ITB 1984 yaitu MM Ido Hutabarat dan Ketua Forum ITB 1984, Ahmad Yani. Tampil sebagai Pemandu talk show adalah salah satu mantan ‘kembang’ angkatan 84 yaitu Siti Azizah yang sekarang hanya mau disebut dengan nama Azizah Lubis. Azizah cukup berhasil ‘menjinakkan’ audiens dengan lontaran-lontarannya yang cukup segar. Acara bincang-bincang ini menampilkan tiga orang nara sumber. Mereka adalah : Dwina Septiani Wijaya (Nana) AR 84 yang saat ini sebagai professional di bidang financial Investment, Dermawan Wibisono, TI ’84, Ketua Program MBA ITB, dan Tito Kurniadi, GL 84, yang saat ini menjabat sebagai Ketua IA ITB Jakarta. Menurut saya tidak ada yang baru yang dibicarakan oleh para panelis. Masih seputar apa dan bagaimana karakteristik alumni ITB, organisasi alumni seperti apa yang sebaiknya dikembangkan, dan sinergi-sinergi apa saja yang bisa dibangun oleh komunitas alumni ITB khususnya angkatan 1984 ini. Demikian juga tanggapan dari floor yang cukup banyak dan cukup beragam masukannya. Sebelum acara tanya jawab dimulai, Azizah sudah ‘mengancam’ kepada peserta binng-bincang bahwa segala bentuk pertanyaan maupun usulan yang ‘tidak membangun’ tidak akan dilayani. Sebelum acara berakhir dilakukan acara fund raising. Ceritanya, ITB 84 sepakat akan menyumbangkan satu set sound sytem seharga Rp. 30 juta. ke pihak ITB dan dana yang terkumpul baru Rp. 15 juta. Oleh karena itu peserta alumni diminta ‘menunjukkan’ kantongnya supaya bantuan ini bisa segera terlaksana. Panitia pun mengundang floor untuk memberikan sumbangan. Setelah dua jurusan (saya lupa jurusan apa) mengangkat tanggannya untuk menyumbangkan masing-masing satu juta rupiah, EL pun tidak mau kalah menyumbang lebih banyak yaitu…. Rp. 1.5 jt. Setelah sempat diledek oleh panitia maupun jurusan lain, dengan sedikit rasa malu EL pun ‘melipatgandakan’ sumbangannya menjadi Rp. 3 juta….. ledekan masih berlanjut dan terpaksa tidak ditanggapi. Rp. 3 juta ini berasal dari kantong beberapa personel EL 84. Beberapa jurusan menyumbang sampai dengan 5 – 6 juta rupiah. Alhasil siang itu terkumpul komitmen sumbangan sampai sebesar Rp 47 juta (?). Acara siang itu diakhiri dengan makan siang bersama pada sekitar pukul 12:45. Acara Sabtu pagi ini benar-benar acara internal ITB 1984, karena panitia memang tidak melibatkan pihak luar sama sekali. Termasuk tidak adanya satupun pembicara tamu. Acara ini benar-benar dari 84, untuk 84, dan oleh 84.

Acara selanjutnya adalah acara bebas masing-masing Jurusan. Untuk EL, akhirnya kami ngumpul di Café Lisung (The Horizon Resto) , salah satu café yang ada di sepanjang jalan Dago Pakar Timur, kira-kira 3 km dari terminal Dago. Sebuah resto dengan nuansa alami dan etnik dengan view kota Bandung. Walaupun berada di ketinggian yang cukup tinggi namun udara tidak terlalu dingin. Hal ini mungkin disebabkan karena makin panasnya kota Bandung, dan kebetulan saat itu kota Bandung sedang diserbu oleh para pelancong luar kota yang ingin menghabiskan long weekend nya di kota Bandung. Di sini acara benar-benar santai yaitu ngobrol ‘ngidul ngalor’ sampai hampir selama dua jam, sebelum ngobrol ‘yang sedikit resmi’ selama sekitar satu jam. Inipun tidak begitu ‘sedikit’ resmi karena sering dipotong oleh komentar-komentar banyolan Hestu ‘Durno’ PBX. Pada saat itu sempat dilakukan ‘conference call’ dengan pakar ‘jin’ penguasa pertelponan di kota Medan, Benny Artono, yang baru sekitar 4 bulan ini menjabat KaKandatel Medan. Beliau cukup terkaget-kaget mendapat ‘serbuan’ dari rekan-rekan 84 dan kelihatan agak terbengong-bengong tentang acara kumpul-kumpul ini. Hari Minggu siang Benny sempat telpon saya untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang acara reuni ini. Di Café Lisung ini sempat berkumpul 18 orang temen-temen EL dari 25 orang yang hadir pada paginya. Acara di café Lisung ini memang tidak ditargetkan untuk ‘menghasilkan’ suatu kesepakatan-kesepakatn maupun komitmen yang sifatnya mengikat. Acara kali ini lebih pure silaturahmi. Menyambung kembali ikatan-ikatan pertemanan kita. Mengutip komentar Arief Utomo : “Kalau mau umur panjang dan banyak rejekinya ya mesti sering-sering ngumpul seperti ini.” Hestu langsung nayambung : “Kalau Surya ‘Jancuk’ Naviza ikut acara ini hanya supaya umurnya panjang….” Bincang-bincang agak resmi satu jam ini diisi dengan sharing dari rekan-rekan semua baik dari kalangan professional maupun yang mengambil jalur pengusaha. Intinya mari kita focus dengan track masing-masing untuk membuat sinergi kedepan yang lebih ‘ampuh’ dan kuat. Satu satunya ‘kesepakatan’ yang ‘disepakati’ adalah bahwa kita ‘sepakat’ untuk lebih sering berkumpul dan bersilaturahmi. Jam 16:30 tepat kami meninggalkan Café Lisung untuk berkumpul lagi malam hari pada acara malam reuni.

Acara malam reuni mulai ramai pukul 19:30 dengan mulai dipersilahkannya peserta menikmati hidangan makan malam. Setting interior acara sangat unik dan baru pertama kali ini saya temui setting yang kreatif seperti ini. Stage dibuat di tengah-tengah Aula Barat, hanya ada dua baris kursi di sebelah selatan untuk undangan-undangan khusus serta masing-masing satu deret kursi di sebelah barat maupun timur. Stand-stand makanan ditempatkan di sisi utara dan selatan di dalam gedung. Di sebelah barat ada satu screen besar yang menampilkan foto-foto kenangan ITB 84. Sambil menikmati hidangan makan malam, kami dihibur dengan sajian musik pop dengan para penyanyinya yang seksi… Para pemain musik dan penyanyinya terlihat menghadap ke ‘segala’ penjuru ruangan aula. Malam itu EL 84 datang dengan seragam kaos warna putih yang telah disiapkan oleh Endifitri. EL 84 terlihat menonjol pada standing party kali ini. Satu-satunya ‘saingan’ EL hanyalah AR yang juga menggunakan seragam khusus mereka. Acara dimulai dengan ditandai menyemprotnya asap putih dari salah satu pojok ruangan dan keluarnya beberapa orang awewe peyeumpuan dan seksi bin geulis menampilkan modern dancing dengan irama musik disco yang gegap gempita… Setelah puas memamerkan goyangan seronoknya, tampilan udel seksinya serta paha mulusnya, merekapun undur diri.
Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari Ketua Panitia dan perwakilan Rektor ITB yang disampaikan oleh Prof. Adang Surachman, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik. Malam itu ada dua tamu spesial yang ditunggu-tunggu kahadirannya. Dua orang tersebut adalah yang menentukan ‘hidup-matinya’ angkatan ITB 1984 khususnya masa-masa Tahap Persiapan Bersama. Dua orang itulah yang akan menentukan mahasiswa ITB 84 apakah akan diwisuda di GSG atau terpaksa diwisuda di ‘Tamansari’ Dua orang tersebut adalah Prof. Hariadi P Supangkat, Rektor ITB pada tahun 1984, dan Prof. Waloejo Luksmanto, Ketua Program TPB saat itu. Sayang sekali hanya Pak Hariadi yang bisa hadir sedangkan Pak Waloejo berhalangan datang. Pak Hariadi pun diminta memberikan sambutan refleksinya untuk angkatan ITB 1984. Setelah itu acara dilanjutkan dengan hiburan dan games-games yang ‘dipaksakan’ luntuk lucu. Tampil paduan suara Female Choir yang mengaku harus dengan baca partitur karena sudah sedikit ‘uzur’ karena menginjak masa-masa ‘menoupase’ di atas 40 tahun… Sedangkan Male choir tersa lebih ‘ganjen’ dan genit karena yakin dengan slogan Life begin at 40 nya. Selanjutnya ada ‘pemilihan’ mantan kembang kampus serta lomba berjalan ala peragawan oleh tiga omm – omm bertubuh subur. Diujung acara sempat tampil lagi para penari seronok itu dengan goyangan yang lebih hot….. Bagaimanapun….EL 84 masih diakui ‘kehebatannya’ yaitu dengan diberikannya penghargaan dari panitia untuk jumlah peserta terbanyak dihitung dari peserta yang hadir pada acara resmi Sabtu pagi. Tanda mata berupa patung kecil gajah duduk diberikan oleh Bendahara Panitia, Azizah, ke perwakilan ITB 84 yang diterima oleh Budi. Saya, Kohar, Bafagih dan Bambang ‘unyil’ –sisa-sisa EL 84 yang masih bertahan- meninggalkan Aula Barat ketika acara belum selesai yaitu ketika konser band Apress ITB 84 masih melantunkan lagu-lagunya… Acara keluarga Minggu pagi dimulai sekitar pukul 9:00. Walaupun nampak tidak begitu banyak keluarga alumni ITB yang datang, acara ini cukup fun. Setelah beberapa perlombaan untuk anak-anak usai, tibalah pertandingan tarik tambang antar jurusan yang seru. Tim EL 84 berhasil menumbangkan TA pada pertandingan pertamanya namun takluk pada pertandingan kedua mengakui keperkasaan gabungan jurusan TL dan PL. Setelah itu masih ada beberapa pertandingan ibu-ibu yang lain…Sayapun terpaksa meninggalkan acara sebelum semuanya berakhir…

Demikian laporan singkat rangkaian acara Reuni 22 Tahun ITB Angkatan 1984, 19 -20 Agustus 2006, yang cukup suskes dan mengesankan. “ITB 1984, The Sustaining Community, Silaturahmi Forever……”

Foto-foto reuni bisa dilihat di sini

Wednesday, September 06, 2006

Selamat Datang !

Selamat datang di blog Alumni Elektro ITB Th. 1984